Category: All About Palembang


Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah nama kerajaan yang tentu sudah tidak asing, karena Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara pada waktu itu (abad 7 – 15 M). Perkembangan Sriwijaya hingga mencapai puncak kebesarannya sebagai kerajaan Maritim. Sumber-sumber sejarah kerajaan Sriwijaya selain berasal dari dalam juga berasal dari luar seperti dari Cina, India, Arab, Persia.Kerajaan Sriwijaya berpusat di daerah yang sekarang dikenali sebagai Palembang di Sumatra Pengaruhnya amat besar di atas semenanjung malayasia dan Pilipina. Kuasa Sriwijaya merosot pada abad ke-11.Kerajaan Sriwijaya mulai ditakluk berbagai kerajaan Jawa, pertama oleh kerajaan Singosari (Singhasari) dan akhirnya oleh kerajaan Kerajaan Majapahit. Malangnya, sejarah Asia Tenggara tidak didokumentasikan dengan baik. Sumber sejarahnya berdasarkan laporan dari orang luar, prasasti dan penemuan arkaelogi, artifak seperti patung dan lukisan, dan hikayat.

Pengaruh Budaya Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India , pertama oleh budaya agama Hindu dan kemudiannya diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Sriwijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana.Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu menerusi perdagangan dan penaklukan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9. Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Borneo Barat.Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatra menerusi Aceh yang telah disebarkan menerusi perhubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414 pangeran terakhir Majapahit, Paramisora , memeluk agama Islam dan berhijrah ke Tanah Melayu di mana dia telah mendirikan kesultanan Melaka. Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan Melayu dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1025 , Sriwijaya telah diserbu kerajaan Cholas dari India. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah hilang kuasa monopoli ke atas lalu-lintas perdagangan Tiongkok -India . Dengan itu, kemewahan Sriwijaya menurun. Kerajaan Singhasari yang berada di bawah naungan Sriwijaya melepaskan diri daripadanya. Pada tahun 1088 kerajaan Melayu Jambi, yang dahulunya berada di bawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya taklukannya. Kekuatan kerajaan Melayu Jambi berangsur hingga 2 abad.

Sumber-Sumber Dari Dalam Negeri Sumber dari dalam negeri berupa prasasti yang berjumlah 6 buah yang menggunakan bahasa Melayu Kuno dan huruf Pallawa, serta telah menggunakan angka tahun Saka. Untuk mengetahui keberadaan prasasti tersebut, simaklah uraian materi berikut ini!

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Kedukan Bukit, di tepi Sungai Talang dekat Palembang, berangka tahun 605 Saka atau 683 M. Isi prasasti tersebut menceritakan perjalanan suci/Sidayatra yang dilakukan Dapunta Hyang, berangkat dari Minangatamwan dengan membawa tentara sebanyak 20.000 orang. Dari perjalanan tersebut berhasil menaklukkan beberajpa daerah.

Prasasti Talang Tuo ditemukan di sebelah barat kota Palembang berangka tahun 606 Saka / 684 M. Prasasti ini menceritakan pembuatan Taman Sriksetra untuk kemakmuran semua makhluk dan terdapat doa-doa yang bersifat Budha Mahayana

Prasasti Telaga Batu ditemukan di Telaga Batu dekat Palembang berangka tahun 683 M.

Prasasti Kota Kapur ditemukan di Kota Kapur pulau Bangka berangka tahun 608

Keempat Prasasti yang disebut terakhir yaitu Prasasti Telaga Batu, Kota Kapur, Karang bukit, dan Palas Pasemah menjelaskan isi yang sama yaitu berupa kutukan terhadap siapa saja yang tidak tunduk kepada raja Sriwijaya.

Sumber-Sumber Prasasti Sumber yang berupa prasasti ditemukan di Semenanjung Melayu berangka tahun 775 M yang menjelaskan tentang pendirian sebuah pangkalan di Semenanjung Melayu, daerah Ligor. Untuk itu prasasti tersebut, diberi nama Prasasti Ligor. Prasasti berikutnya ditemukan di India di kota Nalanda yang berasal dari abad ke 9 M. Prasasti tersebut menjelaskan pendirian Wihara oleh Balaputradewa raja Sriwijaya.

Sumber Berita AsingDi samping prasasti-prasasti, keberadaan Sriwijaya juga diperkuat dengan adanya beritaberita Cina maupun berita Arab.Berita Cina, diperoleh dari I-Tshing seorang pendeta Cina yang sering datang ke Sriwijaya sejak tahun 672 M, yang menceritakan bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang menguasai agama seperti di India dan di samping itu juga, berita dari dinasti Sung yang menceritakan tentang pengiriman utusan dari Sriwijaya tahun 971 – 992 M.

Nama kerajaan Sriwijaya dalam berita Cina tersebut, disebut dengan Shih-lo-fo-shih atau Fo-shih, sedangkan dari berita Arab Sriwijaya disebut dengan Zabag/Zabay atau dengan sebutan Sribuza. Dari berita-berita Arab dijelaskan tentang kekuasaan dan kebesaran serta kekayaan Sriwijaya.

Demikianlah bukti-bukti tentang sumber dari luar negeri yang menjelaskan keberadaan Sriwijaya, sehingga melalui sumber-sumber tersebut dapat diketahui perkembangan Sriwijaya dalam berbagai aspek kehidupan. Kehidupan Politik Dalam kehidupan politik. Raja pertama Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga, dengan pusat kerajaannya ada 2 pendapat yaitu pendapat pertama yang menyebutkan pusat Sriwijaya di Palembang karena daerah tersebut banyak ditemukan prasasti Sriwijaya dan adanya sungai Musi yang strategis untuk perdagangan.

Sedangkan pendapat kedua letak Sriwijaya di Minangatamwan yaitu daerah pertemuan sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan yang diperkirakan daerah Binaga yaitu terletak di Jambi yang juga strategis untuk perdagangan. Dari dua pendapat tersebut, maka oleh ahli menyimpulkan bahwa pada mulanya Sriwijaya berpusat di Palembang. Kemudian dipindahkan ke Minangatamwan.

Untuk selanjutnya Sriwijaya mampu mengembangkan kerajaannya melalui keberhasilan politik ekspansi/perluasan wilayah ke daerah-daerah yang sangat penting artinya untuk perdagangan. Hal ini sesuai dengan prasasti yang ditemukan Lampung, Bangka, dan Ligor. Bahkan melalui benteng I-tshing bahwa Kedah di pulau Penang juga dikuasai Sriwijaya.

Dengan demikian Sriwijaya bukan lagi sebagai negara senusa atau satu pulau, tetapi sudah merupakan negara antar nusa karena penguasaannya atas beberapa pulau. Bahkan ada yang berpendapat Sriwijaya adalah negara kesatuan pertama. Karena kekuasaannya luas dan berperan sebagai negara besar di Asia Tenggara. Kehidupan EkonomiKerajaan Sriwijaya memiliki letak yang strategis di jalur pelayaran dan perdagangan Internasional Asia Tenggara. Dengan letak yang strategis tersebut maka Sriwijaya berkembang menjadi pusat perdagangan dan menjadi Pelabuhan Transito sehingga dapat menimbun barang dari dalam maupun luar.Dengan demikian kedudukan Sriwijaya dalam perdagangan internasional sangat baik. Hal ini juga didukung oleh pemerintahan raja yang cakap dan bijaksana seperti Balaputradewa. Pada masanya Sriwijaya memiliki armada laut yang kuat yang mampu menjamin keamanan di jalurjalur pelayaran yang menuju Sriwijaya, sehingga banyak pedagang dari luar yang singgah dan berdagang di wilayah kekuasaan Sriwijaya tersebut.

Dengan adanya pedagang-pedagang dari luar yang singgah maka penghasilan Sriwijaya meningkat dengan pesat. Peningkatan diperoleh dari pembayaran upeti, pajak maupun keuntungan dari hasil perdagangan dengan demikian Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan yang besar dan makmur.

Kehidupan social Masyarakatnya meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan dan hasilnya Sriwijaya terbukti menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. Hal ini sesuai dengan berita I-Tshing pada abad ke 8 bahwa di Sriwijaya terdapat 1000 orang pendeta yang belajar agama Budha di bawah bimbingan pendeta Budha terkenal yaitu Sakyakirti.Di samping itu juga pemuda-pemuda Sriwijaya juga mempelajari agama Budha dan ilmu lainnya di India, hal ini tertera dalam prasasti Nalanda. Dari prasasti ini diketahui pula raja Sriwijaya yaitu Balaputra Dewa mempunyai hubungan erat dengan raja Dewa Paladewa (India). Raja ini memberi sebidang tanah untuk asrama pelajar dari Sriwijaya. Sebagai penganut agama yang taat maka raja Sriwijaya juga memperhatikan kelestarian lingkungannya (seperti yang tertera dalam Prasasti Talang Tuo) dengan tujuan untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Dengan demikian kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Sriwijaya sangat baik dan makmur, dalam hal ini tentunya juga diikuti oleh kemajuan dalam bidang kebudayaan. Kemajuan dalam bidang budaya sampai sekarang dapat diketahui melalui peninggalanpeninggalan suci seperti stupa, candi atau patung/arca Budha seperti ditemukan di Jambi, Muaratakus, dan Gunung Tua (Padang Lawas) serta di Bukit Siguntang (Palembang).Kebesaran dan kejayaan Sriwijaya akhirnya mengalami kemunduran dan keruntuhan akibat serangan dari kerajaan lain.

Serangan pertama dari Raja Dharmawangsa dari Medang, Jatim tahun 990 M. pada waktu itu raja Sriwijaya adalah Sri Sudarmaniwarmadewa. Walaupun serangan tersebut gagal tetapi dapat melemahkan Sriwijaya.

Serangan berikutnya datang dari kerajaan Colamandala (India Selatan) yang terjadi pada masa pemerintahan Sri Sangramawijayatunggawarman pada tahun 1023 dan diulang lagi tahun 1030 dan raja Sriwijaya ditawan.

Tahun 1068 Raja Wirarajendra dari Colamandala kembali menyerang Sriwijaya tetapi Sriwijaya tidak runtuh bahkan pada abad 13 Sriwijaya diberitakan muncul kembali dan cukup kuat sesuai dengan berita Cina.

Keruntuhan Sriwijaya terjadi pada tahun 1477 ketika Majapahit mengirimkan tentaranya untuk menaklukan Sumatera termasuk Sriwijaya.

Pengertian yang mendekati kenyataan adalah apa yang diterjemahkan oleh R.J.Wilkinson dalam kamusnya A Malay English Dictionary (Singapore, 1903): lembang adalah tanah yang berlekuk, tanah yang rendah, akar yang membengkak karena terendam lama di dalam air.
Menurut Kamus Dewan: lembah, tanah lekuk, tanah yang rendah, untuk arti lain dari lembang adalah tidak tersusun rapi, terserak-serak. Sedangkan menurut bahasa Melayu ¬Palembang, lembang berarti air yang merembes atau rembesan air. Arti Pa atau Pe menunjukkan keadaan atau tempat.
Menurut Sevenhoven2 Palembang berarti tempat tanah yang dihanyutkan ke tepi, sedangkan Stuerler3 menerjemahkannya sebagai tanah yang terdampar.
Pengertian Palembang tersebut kesemuanya menunjukkan tanah yang berair. lni tidak jauh dari kenyataan yang ada, bahkan pada saat sekarang, yang dibuktikan oleh data statistik tahun 1990, bahwa masih terdapat 52,24% tanah yang tergenang di kota Palembang.

Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehidupan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak. Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah ditanah kering diatas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama).Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan. Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.

Dari sisa Kerajaan Sriwijaya tersebut tinggalah Palembang sebagai satu kekuatan tersendiri yang dikenal sebagai kerajaan Palembang. Menurut catatan Cina raja Palembang yang bernama Ma-na-ha Pau-lin-pang mengirim dutanya menghadap kaisar Cina tahun 1374 dan 1375.Maharaja ini barangkali adalah raja Palembang terakhir, sebelum Palembang dihancurkan oleh Majapahit pada tahun 1377. Berkemungkinan Parameswara dengan para pengikutnya hijrah ke semenanjung, dimana ia singgah lebih dulu ke pulau Temasik dan mendirikan kerajaan Singapura. Pulau ini ditinggalkannya setelah dia berperang melawan orang-orang Siam. Dari Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan kerajaan Melaka. Setelah membina kerajaan ini dengan gaya dan cara Sriwijaya, maka Melaka menjadi kerajaan terbesar di nusantara setelah kebesaran Sriwijaya.Palembang sendiri setelah ditinggalkan Parameswara menjadi chaos. Majapahit tidak dapat menempatkan adipati di Palembang, karena ditolak oleh orang-orang Cina yang telah menguasai Palembang. Mereka menyebut Palembang sebagai Ku-Kang dan mereka terdiri dari kelompok-kelompok cina yang terusir dari Cina Selatan, yaitu dari wilayah Nan-hai, Chang-chou dan Changuan-chou.

Nama Palembang “lahir” tepatnya belum dapat diperkirakan. Apakah nama ini lahir sejak Sriwijaya runtuh atau sebaliknya nama Palembang lahir lebih dahulu sebelum nama Sriwijaya “lahir”. Dari sumber Cina, yaitu kronik Chu-fan-chi, karya Chau Ju-kua tahun 1225, disebutkan nama Pa-lin-fong (Palembang), adalah salah satu bawahan San-fo-tsi. Sedangkan yang dimaksudkan dengan San-fo-tsi menurut kronik Ling-wai-tai-ta karya Chau Ku-fei tahun 1178 adalah kerajaan Chan-pi (Jambi).

Wang Ta-yuan dalam catatan perjalanannya Tao-i chih-lio (1349-1350), membedakan antara San-fo-tsi dengan Ku-kang (Kiu-Kiang), yaitu dua buah nama dan tempat yang berbeda. Menurut Ma-huan dalam Ying-yai-Sheng-lan ditulis tahun 1416, menyatakan bahwa Ku-kang adalah negeri yang dahulunya disebut San-fo-tsi (San-bo-tsai).

Dari kronik-kronik Cina, sebagian mengatakan bahwa pe¬ngertian San-fo-tsi dapat berarti Palembang dan juga Jambi. J.L.Moens mempertegas bahwa yang disebut kerajaan San-fo-tsi bukan hanya satu kerajaan saja, dia menyarankan bahwa ahli sejarah harus membedakan “San-fo-tsi Palembang” dan “San-fo¬tsi Melayu”. Sayangnya J.L. Moens tidak tuntas menyelesaikannya.

Banyak penulis sejarah berpendapat kekeliruan penulisan Cina karena San-fo-tsi (Suarnabhumi atau Pulau Emas) dengan hanya menyebutkan nama pulaunya saja, tidak mendetil dengan nama-nama kerajaan di bagian pulau tersebut.

O.W.Wolters mengungkap keadaan ini untuk memperjelas dengan mengambil pendapat Satyawati Sulaiman, dan memperbaiki pernyataan Cina pada paruh kedua abad ke-14, bahwa didalam pengertian San-fo-tsi adanya tiga raja-raja, salah satunya raja Palembang. Sedangkan dua raja yang lain, dia menyarankan penguasa Jambi dan kerajaan Melayu di pedalaman, yang oleh Kartanegara sebagai bawahannya pada paruh kedua abad ke¬-13, yang diperintah oleh Adityawarman beberapa tahun pada abad ke-14.
Palembang sekarang, sebelum nama “Palembang” tampaknya beberapa kali berubah nama sepanjang sejarahnya. Waktu ia menjadi ibukota San-Fo-Tsi, maka ia bernama Swarna Bhumi yaitu sama dengan nama negaranya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yin-Yai-Sheng-Lan karya Ma-Huan yaitu San-Fo-Tsi (Swarna Bhumi) adalah nama ibukota kerajaan San-Fo-Tsi. Antara kata Swarnabhumi dan Palembang terdapat pengertian yang mengandung identitas yang sama yaitu emas.

Swarnabhumi berarti bumi emas, sedangkan Palembang menurut cerita rakyat berasal dari kata pelimbangan emas, yaitu tempat menyaring dan mencuci emas dari bumi (pasir). Dengan adanya pertautan pengertian antara Swarnabhumi dengan Palembang maka cerita rakyat tentang asal nama Palembang tampak ada juga benarnya. Dari hasil analisa ini maka Palembang sekarang sepanjang sejarahnya menurut data yang ada mengalami lima kali periode yang berbeda baik kedudukannya maupun namanya.

Pertama ia bernama Mukha Upang, menurut prasasti Kedukan Bukit hal ini terjadi dalam periode Sriwijaya pemula (Shih-Li-Fo-Shih) ditahun 605 saka atau 683 M. Pada saat itu kedudukannya adalah sebagai negara lokal yang berada di bawah Sriwijaya pemula dengan berpusat di Minanga – Komering Ulu.

Kedua, ia bernama Swarnabhumi menjadi ibukota San-Fo-Tsi I (Swarnabhumi = Sriwijaya Lanjutan I). Kedudukan ini dipegangnya mulai tahun 860 M sampai tahun ± 1097 M, dengan penguasa berwangsa Sailendra.

Ketiga, ia bernama Fo-Lin-Pong sesudah ia menjadi salah satu negeri bawahan San-Fo-Tsi atau dengan kata lain sesudah San-Fo-Tsi pindah ibukota.

Keempat, ia bernama Palembang, dan juga sebagai nama kerajaan seperti yang disampaikan oleh berita Cina dinasti Ming, sesudah pecahnya San-Fo-Tsi menjadi 3 bagian. Di tahun 1374 telah datang utusan Mahana Palembang ke Tionghoa, sebagai salah satu kerajaan pecahan dari San-Fo-Tsi.

Kelima, ia bernama Chiu-Chiang atau pelabuhan lama seperi yang dicatat dalam kroniknya Dinasti Ming sesudah ia ditundukkan oleh Jawa.

Tidak lengkap rasanya bila berkunjung ke Palembang tanpa menyusuri sungai yang sangat terkenal itu. Ya.. Sungai Musi. Sungai yang menjadi kebanggaan masyarakat Palembang. Perjalanan menyusuri Sungai Musi merupakan hal yang wajib dilakukan bagi wisatawan yang ingin tahu bagaimana suasana Palembang yang sebenarnya.

Di sepanjang sungai Musi, kita dapat menemukan beberapa objek wisata yang menjadi kebanggaan juga untuk masyarakat Palembang. Sungai ini masih menjadi andalah masyarakat Palembang dalam hal transportasi air. Dapat dilihat dari banyaknya perahu (taksi) motor yang mondar-mandir membawa penumpang yang ingin menyeberang.

Cara Mencapai Daerah Ini Untuk menuju sungai musi, anda dapat menggunakan angkutan kota (angkot) dengan jurusan Ampera atau pasar 16 Ilir, tarifnya sekitar Rp.1.500 ” Rp.5.000 tergantung dari mana anda naik. Atau anda juga dapat menggunakan becak palembang, dengan tarif sekitar Rp.5000,- s/d Rp.10.000,-. . Dari Jembatan Ampera kita turun menuju dermaga dan menyewa sebuah perhu motor. Harganya sekitar Rp.50.000,- s/d Rp.100.000,- jangan mau bila minta lebih dari itu. Dengan harga segitu anda dapat menyusuri sungai Musi sepuasnya.

Tempat Menginap Palembang merupakan salah satu kota tujuan wisata di Indonesia, jadi anda tidak perlu khawatir untuk mencari tempat menginap di Palembang. Harganya juga bervariatif antara Rp.250.000,- s/d Rp.5.000.000,-.

Tempat Bersantap anda tidak perlu bingung mencari tempat makan di Palembang, karena sangat banyak dan beragam. Dan masing-masing dari tempat makan tersebut menawarkan menu andalan mereka yaitu pindang ikan Patin. Itu merupakan makanan khas Palembang. Anda harus mencobanya.

Berkeliling Sungai Musi anda memang harus menggunakan perhau bermotor. Anda dapat menyewanya tepat dibawah jembatan Ampera. Disana memang pusatnya penyewaan kapal-kapal untuk disewa oleh wisatawan-wisatawan, baik asing maupun lokal.

Yang Dapat Anda Lihat Atau Lakukan Sepanjang Sungai Musi ada beberapa objek wisata, seperti salah satunya Pulau Kemaro dan Makam Ratu Bagus Kuning. Anda dapat meminta supir perhu untuk membawa anda ke tempat-tempat tersebut. Jangan khawatir, mereka tahu benar kawasan itu.

Buah Tangan yang dapat anda beli, banyak sekali dari mulai kerupuk Palembang sampai Pempek semua tersedia. Dan juga kerajinan-kerajinan tangan, seperti songket dan kain jumputan.

Tips Agar liburan anda terasa nyaman, ada beberapa tips yang mungkin akan berguna. Udara di Palembang cukup panas, sama halnya dengan Jakarta. Jadi pilihlah pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Jangan lupa membawa Topi atau payung untuk melindungi diri dari sengatan matahari.

Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang . Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besar di prakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan Internasional serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai sultan ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.

Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1780 dengn arsitek yang tidak diketahui dengan pasti dan pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan pada seorang Tionghoa. Semen perekat bata dipergunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Waktu yang dipergunakan untuk membangun Kuto Besak ini kurang lebih 17 tahun. Ditempati secara resmi pada hari Senin pada tanggal 21 Feburari 1797.

Berbeda dengan letak keraton lama yang berlokasi di daerah pedalaman, keraton baru berdiri di posisi yang sangat terbuka, strategis, dan sekaligus sangat indah. Posisinya menghadap ke Sungai Musi .

Pada masa itu, Kota Palembang masih dikelilingi oleh anak-anak sungai yang membelah wilayah kota menjadi pulau-pulau. Kuto Besak pun seolah berdiri di atas pulau karena dibatasi oleh Sungai Sekanak di bagian barat, Sungai Tengkuruk di bagian timur, dan Sungai Kapuran di bagian utara.

Pembangunan dan penataan kawasan di sekitar Plaza Benteng Kuto Besak diproyeksikan akan menjadi tempat hiburan terbuka yang menjual pesona Musi dan bangunan- bangunan bersejarah. Jika dilihat dari daerah Seberang Ulu atau jembatan Ampera , pemandangan yang tampak adalah pelataran luas dengan latar belakang deretan pohon palem di halaman Benteng Kuto Besak, dan menara air di Kantor Wali Kota Palembang.

Di kala malam hari, suasana akan terasa lebih dramatis. Cahaya dari deretan lampu- lampu taman menciptakan refleksi warna kuning pada permukaan sungai.

Pemkot Palembang memiliki sejumlah rencana pengembangan untuk mendukung Plaza Benteng Kuto Besak sebagai obyek wisata.


Arsitektur masjid-masjid tua di Kota Palembang, Sumatera Selatan, menggambarkan semangat pluralisme yang sangat maju pada zamannya. Unsur budaya Arab, Jawa, China, dan Eropa diserap dan dipadukan dalam arsitektur bangunan dengan komposisi yang harmonis. Harmonisasi bentuk itu disatukan pada kebutuhan untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi orang yang beribadah di dalamnya.

Masjid Agung merupakan masjid tua dan sangat penting dalam sejarah Palembang. Masjid yang berusia sekitar 259 tahun itu terletak di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang. Tak jauh dari situ, ada Jembatan Ampera. Masjid dan jembatan itu telah menjadi landmark kota hingga sekarang.

Keberadaan Masjid Agung tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Kesultanan Palembang Darussalam pada abad XVI hingga abad XIX. Budayawan Djohan Hanafiah dalam buku Masjid Agung Palembang: Sejarah dan Masa Depannya (1988) menyebutkan, Masjid Agung didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah Kesultanan Palembang Darussalam tahun 1724-1758.

Tidak seperti dalam tradisi Jawa, masjid itu justru dibangun di belakang keraton dan Benteng Kuto Besak yang menghadap ke Sungai Musi.

Tahap pertama pembangunan berlangsung dari tahun 1738 hingga 1748. Mulanya masjid didirikan tanpa menara. Sultan Najamuddin I, putra Sultan Mahmud Badaruddin I, lalu membangun menara di sebelah kanan depan, berbentuk segi enam setinggi sekitar 20 meter.

Masjid itu terus mengalami renovasi yang menambahkan beberapa unsur lain dalam bangunan. Renovasi terakhir dilakukan pada masa Gubernur Sumsel Rosihan Arsyad, dan diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, Juni 2003.

Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat kerajaan itu menjadi pusat kajian Islam yang melahirkan sejumlah ulama penting pada zamannya. Syekh Abdus Samad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah adalah beberapa ulama yang berkecimpung di masjid itu dan memiliki peran penting dalam praksis dan wacana Islam.

Sosok Masjid Agung saat ini cukup mencolok di tengah Kota Palembang yang semakin padat dan semrawut. Masjid berbentuk bujur sangkar dan bangunan utama berundak tiga dengan puncak atau mustaka berbentuk limas. Undakan ketiga yang menjadi puncak memiliki semacam leher yang jenjang yang dihiasi ukiran bermotif bunga. Pada puncak mustaka terdapat mustika berbentuk bunga merekah. Bentuk berundak dipengaruhi bentuk dasar candi Hindu-Jawa, yang kemudian diserap Masjid Agung Demak yang dipercaya didirikan Wali Songo, penyebar Islam di Jawa.

Di atas sisi limas terdapat jurai daun simbar atau semacam hiasan menyerupai tanduk kambing yang melengkung, sebanyak 13 setiap sisinya. Jurai yang berwarna emas itu berbentuk melengkung dan lancip. Tak pelak lagi, bentuk dasar jurai itu menyerupai atap kelenteng.

Jendela masjid dibuat besar-besar dan tinggi, sedangkan tiang masjid dibuat kokoh dan besar. Pilihan ini menimbulkan kesan seperti umumnya arsitektur Eropa. Gaya itu juga banyak ditemui pada bangunan Indies, yang dibuat semasa Indonesia dijajah Belanda sekitar abad XVIII hingga awal abad XX.

Selain Masjid Agung, ada beberapa masjid tua lain di Palembang yang didirikan pada masa Kesultanan Palembang atau setelahnya. Komponen arsitektur utama masjid-masjid itu umumnya menginduk kepada bentuk Masjid Agung, tetapi ukurannya lebih kecil. Beberapa masjid itu juga memiliki sejarah unik dan peran penting dalam pertumbuhan agama Islam di Palembang dan sekitarnya.

Masjid-masjid itu antara lain Masjid Muara Ogan, Masjid Lawang Kidul, Masjid Suro, dan Masjid Sungai Lumpur. Masjid Muara Ogan dibangun di sudut Sungai Ogan dan Sungai Musi, termasuk Kecamatan Kertapati, sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Palembang. Saudagar Masagung Abdul Hamid, yang dikenal sebagai Kiai Muara Ogan, mendirikan masjid itu tahun 1889. Nama masjid merujuk pada sebutan Kiai Muara Ogan.

Masjid Lawang Kidul terdapat di Kelurahan 5 Ilir, di tepi Sungai Musi. Masjid ini juga didirikan Kiai Muara Ogan tahun 1881 dengan nama Masjid Mujahidin, tetapi kemudian lebih dikenal sebagai Masjid Lawang Kidul. Masjid Suro terletak di Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, sekarang bernama Masjid Mahmudiyah. Masjid ini didirikan Kiagus H Mahmud Khatib dan Kiai Delamat, murid Kiai Muara Ogan, tahun 1906.

Ada lagi Masjid Sungai Lumpur yang didirikan Said Abdullah bin Salim al-Kaff di Kampung 14 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II. Daerah itu termasuk kawasan komunitas keturunan Arab.

Bentuk bangunan utama Masjid Muara Ogan, Lawang Kidul, Masjid Suro, dan Masjid Sungai Lumpur secara umum menyerupai bentuk Masjid Agung. Masjid-masjid ini juga menyerap budaya China, Jawa, Arab, Eropa, dan Palembang dalam bentuk yang padu.

Arsitektur Masjid Agung dan beberapa masjid lama di Palembang menawarkan bentuk-bentuk yang simbolik. Undak-undakan di pelataran dan di atap masjid, misalnya, melambangkan tarekat atau perjalanan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tingkat pertama merupakan syariah atau tahap penertiban amal perbuatan yang baik, sesuai dengan tuntunan agama. Tingkat kedua mencerminkan hakikat atau proses pencarian atas ruh yang tersimpan di balik perbuatan yang kasatmata. Tahap ketiga menjadi puncak perjalanan karena manusia telah mengalami ma’rifat, mengenal hakikat Tuhan.

Bentuk undak-undakan senantiasa mengajak manusia untuk mengasah diri dengan menertibkan perbuatan, meraih makna, dan mengenal Tuhan. Tahap-tahap itu merupakan perjalanan spiritual yang tiada berakhir.

Beberapa masjid generasi baru di Palembang juga menyerap berbagai budaya yang berbeda-beda, sebagian mengadopsi semangat perkembangan arsitektur yang lebih modern. Itu antara lain diwakili Masjid At-Taqwa di Jalan Kironggo Wirosentiko dan Masjid Baitul Atiq di daerah Talang Semut.

Masjid At-Taqwa, yang berada di depan kolam retensi, dibangun tanpa kubah. Atap bagian atas justru berbentuk mendatar, dan agak melengkung ke atas di sisi tepinya. Nyaris tidak ada ornamen yang rumit di dinding bagian luar. Kubah kecil berbentuk bawang dibuat di atas menara yang berbentuk persegi empat. Sekilas, arsitektur masjid itu menyerupai arsitektur Masjid Salman di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Bentuk dasar kubus dalam bangunan ini mengacu pada prinsip arsitektur modern, form follow function (bentuk mengikuti fungsi). Sebagaimana Masjid Salman ITB, pilihan bentuk kubus dari Masjid At-Taqwa justru mengoptimalkan pembentukan ruang kosong yang lebih luas di dalam masjid.

Masjid Baitul Atiq yang diresmikan awal tahun 2005 kental dengan unsur budaya Eropa dan Persia. Warna Eropa terlihat dari bentuk tiang dan dinding yang kokoh, serta bentuk jendela yang lebar dan tinggi. Bahkan, menara di samping bangunan utama mirip dengan menara beberapa gereja di Eropa. Unsur Persia terasa dari pilihan bentuk kubah yang menyerupai bawang putih yang dipotong setengah dan warna emas yang memenuhi seluruh permukaan kubah.

Tidak saja menampilkan keindahan, arsitektur Masjid Agung dan beberapa masjid di Kota Palembang juga menawarkan pendekatan yang unik terhadap berbagai serapan budaya dalam komposisi yang tetap harmonis. Perpaduan itu menunjukkan kuatnya pemahaman yang menghargai berbagai budaya dari masyarakat yang berbeda, yang ditempatkan sebagai potensi untuk membangun harmoni.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.